Berita Balai Bahasa
Berita Balai Bahasa (BBB) memuat berita perihal kegiatan, kursus, dan tes yang diselenggarakan Balai Bahasa Universitas Negeri Malang.
KURSUS BAHASA MANDARIN GRATIS BERSAMA PENUTUR ASLI ASAL CHINA DIGELAR OLEH BALAI BAHASA UM

KURSUS BAHASA MANDARIN GRATIS BERSAMA PENUTUR ASLI ASAL CHINA DIGELAR OLEH BALAI BAHASA UM
Balai Bahasa UM merupakan pusat bahasa di Universitas Negeri Malang yang menjadi wadah bagi khalayak umum untuk melaksanakan pelbagai tes seperti IELTS test, ITP TOEFL, English Proficiency Test (EPT), dan Tes TKBI serta TKDA. Terdapat pula jasa penerjemahan dokumen dan pengoreksian teks seperti instrumen penelitian, sertifikat, artikel untuk jurnal, dan lain-lain. Selain itu, Balai Bahasa UM atau yang kerap disebut sebagai BB UM menawarkan berbagai macam program pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Inggris, Jepang, dan bahasa Mandarin.
Bahasa Mandarin umumnya dipelajari dengan mengikuti standar HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) yang memiliki 6 tingkatan, yakni, HSK level 1 & 2 sebagai tingkat dasar, level 3 &4 sebagai tingkat menengah, serta level 5 & 6 sebagai tingkat lanjut atau mahir. Pada bulan Maret 2025, Balai Bahasa UM resmi meluncurkan program Kursus HSK 1 dan Budaya. Program ini dilaksakan secara gratis dengan 16 kali pertemuan tatap muka yang dilaksanakan di gedung Balai Bahasa UM, setiap hari Selasa dan Kamis pukul 16:00 – 17:30. Pengajar dalam kursus HSK 1 dan Budaya tersebut adalah native speaker atau penutur asli yang memiliki kewarganegaraan China bernama Lin Yingzhen.
Lin Yingzhen merupakan pengajar kelahiran 1971 dengan gelar Master. Menurutnya, perbedaan bahasa menjadi tantangan tersendiri selama mengajar karena bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin adalah dua bahasa yang tidak serumpun yang memiliki nada atau pelafalan yang jauh berbeda. Bagaimana cara agar siswa dapat secara akurat membedakan nada dan melafalkannya dengan benar adalah tantangan terbesar baginya. Di sisi lain, Lin Yingzhen mengaku memiliki pengalaman berharga selama mengajar salah satunya yaitu bagaimana ia merancang kegiatan pembelajaran yang beragam dengan memperbanyak metode ceramah dan latihan sehingga para siswa dapat mengenali, membiasakan diri, dan mahir atau menguasai materi yang diajarkan.
Materi yang diajarkan selama kursus HSK 1 dan Budaya gratis tersebut cukup beragam. Beberapa di antaranya yaitu bagaimana cara mengucapkan salam, angka, waktu, dan tempat. Diajarkan pula cara memperkenalkan diri, berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, dan budaya Tionghoa seperti penempatan marga pada nama seseorang, serta berbagai festival Tionghoa. Lin Yingzhen berharap kelas yang diampunya mampu memberikan dampak dan manfaat bagi peserta yang mengikuti kursus HSK 1 dan Budaya.
Peserta yang mengikuti kursus HSK 1 dan Budaya terdiri dari berbagai kalangan dari anak-anak, mahasiswa, hingga pengajar. Salah satu di antaranya yaitu Dwi Kartika Setyawati (usia) yang merupakan seorang pengajar bahasa Inggris di SMAN 1 Kota Malang. Dwi mengaku bahwa tujuannya mengikuti kursus HSK 1 dan Budaya di Balai Bahasa UM ini karena ia ingin mempunyai wawasan mengenai budaya Tiongkok dan ingin mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris. “Saya seneng karena diajar oleh native speaker sendiri jadi langsung dari beliau yang dari Chinese dari China gitu dan beliau itu ketika mengajarkan sangat jelas dan kami pun bisa mengikuti dengan cukup baik, meskipun juga kendalanya banyak sekali tapi beliaunya sendiri bersyukurnya bisa memahami atau menjembatani bahasa Indonesia dengan bahasa Chinese ketika kami berbicara dalam bahasa Inggris dan beliau bisa menerangkannya dengan baik,” ucapnya.
Dans (usia) mahasiswa UB jurusan Ilmu Bisnis yang juga turut serta dalam program kursus gratis ini mengaku ingin meneruskan belajar bahasa Mandarin karena dulu pernah mengikuti kursus saat SD dan kurus serupa via online. Kemudian, ia menemukan informasi mengenai kursus gratis di Balai Bahasa UM dan memutuskan untuk bergabung dalam program ini. “Apa yang didapat itu banyak sih, karena ada kaligrafinya, terus speaking-nya juga, karena itu dari native. Ditambah di UM ini juga difasilitasi banget, semua gratis,” tutur mahasiswa UB tersebut.
BALAI BAHASA UM MENGGELAR GENERAL ENGLISH (GE) DALAM UPAYA PENINGKATAN BAHASA INGGRIS SISWA SD, SMP, DAN SMA LABOLATORIUM

BALAI BAHASA UM MENGGELAR GENERAL ENGLISH (GE) DALAM UPAYA PENINGKATAN BAHASA INGGRIS SISWA SD, SMP, DAN SMA LABOLATORIUM
General English (GE) merupakan salah satu program unggulan Balai Bahasa Universitas Negeri Malang yang digelar dengan menggandeng Sekolah Laboratorium Universitas Negeri Malang. Program ini telah dilaksanakan sejak paruh kedua tahun 2024 tepatnya pada bulan Agustus. General English terbagi atas EC atau English for Children dengan peserta mulai kelas 1 hingga kelas 6 Sekolah Dasar (SD) dan ET atau English for Teens dengan peserta mulai dari kelas 1 hingga kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan EA atau English for Adults dengan peserta mulai dari kelas 1 hingga 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Peserta yang mengikuti program ini akan melalui pre-test dengan tujuan pemetaan tingkatan kelas antara beginner, intermediate, atau higher intermediate dengan demikian pembelajaran bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
Kemampuan masing-masing siswa berbeda-beda, untuk itu Balai Bahasa UM berusaha memfasilitasinya dengan menggelar kelas yang berbeda-beda pula sesuai dengan tingkatannya. Selain itu, Balai Bahasa UM juga memberikan kebebasan peserta untuk melaksanakan kelas bahasa Inggris ini sesuai dengan jadwal sekolah mereka. General English dilaksanakan sebanyak dua kali dalam seminggu yakni pada hari aktif antara Senin – Jumat di sekolah masing-masing dan pada hari Sabtu di Balai Bahasa UM. Untuk waktu pelaksanaannya yakni selama kurang lebih 90 menit sepulang sekolah, sedangkan untuk hari Sabtu dimulai antara pukul 08:00 hingga pukul 11:00 sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan pengajar.
Pengajar kelas bahasa Inggris di Balai Bahasa UM khususnya untuk program General English (GE) merupakan para pendidik yang telah melalui proses seleksi. “Jadi, dulu itu kan tes, ya. Tes tulis, tes wawancara, dan tes micro teaching.” Tutur Yusca (23) selaku salah satu pengajar GE yang telah memiliki sertifikat International English Language Testing System (IELTS). Selain itu, para pengajar juga semaksimal mungkin membuat pembelajaran di kelas menjadi seru dengan lebih menonjolkan aksi daripada teori. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas pembelajaran di kelas pada 17/5/2025 saat anak-anak tingkat SMP diminta untuk berkelompok dan memecahkan misi mencari benda-benda untuk camping serta membuat bendera kelompok mereka sendiri. Dengan demikian, para pengajar tidak hanya sekedar memberikan materi.
Materi yang diajarkan dalam kelas General English memiliki perbedaan yang drastis dengan materi yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Hal ini sebagaimana yang dituturkan Yusca (23),“..bedanya drastis sih, karena kalau di sekolah kita kebiasaan diajarin grammar-nya, kalau di kita diajarin expression-nya, jadi kalau di kita itu anak nggak boleh disalahin, jadi, nanti setelah selesai berpendapat baru kita reviu sama-sama. Terus juga praktek, terus sama bahas-bahas buku,” ujar pengajar GE tersebut. Untuk memantau perkembangan peserta, diadakan pula mid-test di akhir termin atau pada pertengahan semester. Kemudian diadakan tes mulai dari listening, writing, bahkan juga speaking di akhir semester untuk hasil akhir para peserta General English.
Peserta General English mengaku bahwa mereka mendapatkan tidak hanya materi berdaging tetapi juga pengalaman seru selama mengikuti kursus ini. “Pengalaman asik kayak fun learning sama wawancara, wawancara ini ujian kayak speaking,” aku Daffa (15) yang merupakan salah satu peserta GE jenjang SMP. Tidak hanya itu, para peserta juga merasa terbantu dengan adanya GE. “Kadang saya kesulitan untuk memahami beberapa bab yang dijelaskan guru dan memerlukan beberapa waktu biar bisa masuk ke kepala gitu biar paham isinya itu tentang apa, saya bisa minta bantuan temen atau tanya langsung ke pembimbingnya.” Ujar Maritza (16) salah satu peserta GE jenjang SMA.
